Tampilkan postingan dengan label PROSES hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROSES hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

usai pesta


Seperti apa rasanya pagi seusai pesta?
Menyengat
Pening
Terhuyung-huyung
Menampar pipi kanan namun kembali terjungkal ke kanan
Anomali
Mengingat-ingat siapa saja dan bagaimana
Memejamkan mata dan merasakan kembali keriuhan
mengecap sisa kenikmatan di lidah yg kini asam
 jantung masih berdebar-debar
namun bukan lagi karena musik atau kecanggungan 
tapi karena banyaknya hal yg mungkin buruk terjadi selama pesta
lebih baik kembali berpesta 
kembali mabuk
ketika pesta usai

Selasa, 04 September 2012

pesta kemerdekaan


selamat malam
ijinkan aku memerdekakan diri dengan menyapa cinta yg sekarang meringkuk di sudut yang paling sudut dari hidupku..
inilah pesta perayaan kemerdekaan
apa kabar?
masihkah kau memiliki sedikit rasa sakit untuk kau sundutkan kepadaku sebagai pengingat?
sebagai bagian dari romansa
sebagai alasan untuk tetap bertahan
ya.. aku membutuhkan rasa sakit
meski terkadang alasan nya harus dicari-cari
agar nampak manusiawi
dengan menyapamu, cinta
aku telah sepenuhnya merdeka
merdeka untuk mengakui sepenuhnya aku
tentu saja beserta kamu dan lukaku

kau tau bagaimana rasanya mendapat pelukan?
mendapat.
tanpa ekspektasi sebelumnya.
sebagai hukuman atas kesalahan kita.
rasanya seperti sedang bergegas memakai sepatu lari bertali
rumit
tidak proporsional (panjang tali)
takut terkejar oleh lawan
oleh keadaan
oleh kenyataan
mendebarkan
sebuah pendewasaan
sebuah kedewasaan


4 sept

bagaimana rasanya berdiri didepan sebuah kaca bening
kita bisa melihat dengan jelas apa yg ada dibalik kaca
semuanya.
orang orang.
jalan.
lampu.
menerka suasana
membayangkan aroma
semuanya
serta pantulan bayang-bayang dari apa dibalik kita
terbatas memang
namun masih jelas
seperti melihat masa lalu dan masa depan sekaligus
seperti meminum kopi dan anggur bersamaan
seperti melihat bayanganmu dalam setiap keberadaan benda
apapun itu
semuanya
dan karena aku makhluk nyata yang meruang.. mewaktu..
maka tidak dapat kupisahkan apapun dari bayang-mu
termasuk diriku sendiri

Rabu, 18 April 2012

caraku

aku berharap bertemu banyak wajah, banyak kesempatan, dan hal hal baru dengan jatuh cinta.
setidaknya pada diriku sendiri.
aku kehilangan banyak fokus,  mulai menyapa orang,
mulai memiliki senyum, namun tidak merasa nyaman
mungkin karena ada satu hal yg vital yang ternyata hilang
waktuku melambat namun aku tidak menemukan cinta sebagai penandanya
aku berhenti mengagumi caraku
mulai membenci diriku sendiri

Selasa, 03 April 2012

menukar waktu


Bagaimana dengan menukar waktu?
Aku bukanlah seorang wanita tua yang berjalan terbungkuk mengais langkah untuk bisa kembali pada waktu dengan detikku sendiri
Aku juga bukan seorang gadis yang memanjatkan harapan berulang-ulang tanpa henti. Tanpa hari esok yang mewujud
Aku hanya berusaha menapaki lingkaran labirin yang semakin meluas dan lebih rumit dari yang kubayangkan
hanya sesekali berdoa dan beberapa kali tersesat dalam masa lalu
berharap menemukan ingatan tentang seseorang yang tak lagi bisa kukenali sosoknya
memohon dengan sangat atas rangkaian peristiwa yang begitu kompleks yang menyusun sebuah pertemuan, meski hanya bersinggung ruang 3 dimensi. Tak sempat memikirkan masa depan atas tatapan mata yang bertemu sesaat.
Mendatangi ruang-ruang yang tak lagi sama
Mengucapkan selamat malam pada sosok yang mungkin baru saja lahir, sedang mengutuki masa muda, atau mungkin sedang tersengal menyambut  ajal..
memandang sekeliling dan mengucapkan terimakasih
tidak berbuat banyak
namun tetap apa apa

Rabu, 14 Maret 2012

Selamat Sore


Selamat sore… selamat menikmati senja… keindahan rintik hujan menjelang gelap itu kini bergeser kearah selatan. Dengan sebuah rangkaian peristiwa yang kompleks… kita bertemu pada satu titik  tiga dimensi. Dunia nyata. Kita bertemu dalam ruang, waktu, jarak. Meski tak bersentuhan, meski tak pernah aku benar-benar berani menatap matamu. Meski pertanyaan-pertanyaan yang terlontar tak meiliki korelasi bagi orang awam yang mendengarnya. Meski senja itu adalah senja yang sama bagi pemabuk yang tidur pulas. Meski waktu mekanis begerak sama sekali tak berbeda. Meski kita duduk pada satu bangku yang sama seperti dulu, namun segalanya jelas berbeda.
Aku masih bisa menebak setiap ucapan yang akan terlontar dari mulutmu. Dan kau masih saja terbelalak mendengar kata-kataku meski kau telah merasa benar-benar mengenalku. Dan karena kita hadir dalam dimensi itu dengan diri yang masing-masing berbeda, Mata kita saling mengawasi gerak tubuh yang lain. Mencoba menerka apa yang ada difikiran masing-masing, dan mengamati apa yang telah berubah. Dalam waktu yang tidak bersamaan, kita juga memejamkan mata lebih lama sepersekian detik dari sekedar berkedip. Entah untuk menenangkan detak jantung yang bertambah cepat, atau untuk menahan jatuhnya air mata. Kita tertawa begitu keras atas hal yang tak benar-benar lucu.  Kita juga berdehem untuk menyembunyikan suara yang tiba-tiba menjadi serak.
Aku masih mencintai fractal dan biodiversitas, serta diam-diam mempercayai hipotesa gaia yang kau tertawakan. Dan kau masih memuja dewa matahari dan pandangan pertama. Namun kini aku mulai belajar bermain karet gelang dan kau mulai berhenti mendefinisikan kata-kata. Kita tak lagi menjadi sosok yang masing-masing kita kagumi.
Aku membayangkan, apa yang akan terjadi jika saat itu aku memutuskan untuk membuka kotakmu. Mungkin semua akan jelas berbeda. Namun aku sama sekali tidak menyesal atas keputusanku. Kau. Caramu menyalakan rokok. Senyummu yang miring beberapa mili kekanan,- hampir tak terlihat, namun aku bisa menangkapnya dengan pasti. Ada banyak hal yang kau remehkan dari dunia ini. Dan tentu saja hal yang sangat kau kagumi-.  Caramu memanggilku, caramu berterimakasih, menelusupkan rasa sakit yang sebenarnya kunikmati.
Seperti udara, orang-orang pun beratmolisis dalam hidupku, dalam hidup semua orang. Terurai, berdifusi, bertahan, atau berlalu lebih cepat. Namun semuanya menyusun kesatuan diriku saat ini. Tidak berlabel jelas, namun pasti. Seperti kehadiranmu di hidupku, seperti kebersamaan kita yang membuatku lupa waktu, seperti kesempatan, seperti ciuman, seperti pertemuan kita sore ini.

Senin, 02 Januari 2012

KOTAK HADIAH


Kepada : kotak hadiah tak bernama pengirim

Hai.. apakabar? Aku berdoa agar kau baik-baik saja…
Kabarku? Tak perlu kau risaukan… aku akan melanjutkan kehidupanku seperti biasanya…seperti yang telah kuputuskan….
Kotak hadiah…. Aku meminta maafmu atas semua ini… atas keputusanku untuk tidak membukamu….
Aku tidak terbiasa menerima hadiah… lalu tiba-tiba aku mendapatkan kau, kotak hadiah tak bernama pengirim yang datang tanpa alasan apapun… hari itu bukan hari ulang tahunku, bukan tahun baru, bukan natal….. hari itu hari biasa yang menjadi hari paling indah dalam hidupku…. Karena tiba-tiba kau muncul di depan pintu rumahku…
Dulu, aku pernah menerima kotak hadiah… kotak yang sangat indah.. tidak besar sepertimu, tapi menjadi yang paling indah Karena aku belum pernah menerima hadiah sebelumnya… namun ternyata isinya membuat orang tuaku membuangnya. Berbahaya, kata mereka. Aku menangis sejadi-jadinya. Bertahun-tahun kemudian baru aku mengerti apa maksud orang tuaku. Hadiah itu mungkin memang tidak cocok untukku….
Lima tahun sesudah itu, atau tepatnya dua tahun yang lalu… aku kembali mendapatkan hadiah di hari spesialku. Kotaknya besar…indah…dan ketika aku membukanya, semua orang yang ada disitu, orang tuaku, paman bibiku, saudara-saudaraku, teman-temanku, semuanya bertepuk tangan… aku melihat kearah mereka satu persatu.. mereka tersenyum bahagia… aku pun ikut tertawa dan bertepuk tangan tanpa mengerti apa maksud mereka. Melihat mereka tersenyum, aku menyimpulkan bahwa hadiah itu memang baik untukku… aku mendekap hadiah itu di dadaku, dan membawanya kemanapun. Semua orang yang melihat ikut senang. Aku semakin yakin bahwa hadiah itu memang hadiah yang terbaik untukku. Namun, hadiah itu memiliki duri yang panjang tapi sangat halus sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Dan terkadang itu menusuk kulitku sangat dalam ketika aku mendekapnya. Rasanya sakit. Bahkan tekadang sangat sakit. Aku tidak mempermasalahnya, karena semua orang senang dan mengatakan aku beruntung mendapatkan hadiah seperti itu.
Hingga akhirnya aku menemukanmu di depan pintu , di pagi hari yang sangat biasa. Kotak hadiah yang besar dan sangat indah…. Aku bahagia…. Sangat bahagia….
Aku melepaskan hadiahku yang selama ini kudekap. Kuletakkan pelan-pelan di tempat tidur. Kulihat darah mengalir perlahan dari kulitku.. perih. Lalu berlari mendekatimu. Mengagumimu. Menerka-nerka apa isimu, dan siapa yang mengirimmu. Aku memanggil orang tua dan teman-temanku. Aku ingin melihat reaksi mereka melihat kotak  hadiah seindah ini… mereka mungkin bertepuk tangan lebih keras daripada dua tahun yang lalu…
Namun ternyata tidak. Mereka hanya menarik napas panjang dan saling pandang. Aku memandang mereka satu persatu. Mereka mengalihkan pandangan, menghindari mataku. Lalu salah satu memekik melihat baju putihku bernoda merah di bagian dada. Mereka berkerumun memeriksa luka di dadaku. Aku tidak bisa menutupinya lagi, darahnya merembes keluar tanpa sepengetahuanku. Aku menjelaskan dengan terbata-bata bahwa luka itu akibat duri yang ada pada hadiah yang selama dua tahun ini kudekap. Mereka memelukku. Beberapa dari mereka menyuruhku untuk tak lagi mendekap hadiahku kemanapun. Sisanya, hanya diam dan mencoba membersihkan lukaku.
Aku menghabiskan waktu dua hari untuk menatapmu yang kuletakkan setengah meter di meja di depanku tanpa menyentuhmu. Aku masih meletakkan hadiahku di tempat tidur. Aku tak ingin memegang apapun. Dadaku masih sangat nyeri. Dan aku masih belum berani untuk mendekapmu. Aku tidak mau bertindak gegabah.
Akhirnya, dengan proses berfikir  panjang dan melelahkan, aku memutuskan untuk meletakkanmu di atas lemari kamarku. Aku bisa melihatmu kapanpun tanpa mengurangi gairah keingintahuanku tentangmu. Keindahan dan kekagumanku padamu pun akan menjadi sesuatu yang abadi dalam ingatanku. Karena jika aku memutuskan untuk membukamu, ada tiga hal yang akan tak pernah kuinginkan terjadi. Pertama, jika aku membukamu dan mengetauhi kau tak seindah yang kubayangkan, tak seindah kotak yang kukagumi, maka aku akan kecewa. Aku akan kehilangan gambaran tentang keindahan dalam hidupku. Aku akan membencimu. Kedua, jika kau lebih indah dari yang aku bayangkan, maka aku akan terlalu gembira. Membawamu kemanapun dan meninggalkan hadiah lamaku. Kegembiraan yang berlebih jelas tak kuinginkan dalam proses peng-nol-an diriku. Dan jika aku menyimpan kembali hadiah lamaku dalam kotak, maka orang-orang yang duu bertepuk tangan akan kecewa. Aku tak mau menyakiti mereka. Lagipula aku tak mendapatkan respon yang baik saat aku menunjukkanmu bila dibanding saat aku membuka hadiah lamaku. Meski bagiku kau sangat luar biasa. Dan kemungkinan ketiga, jika kau persis seindah yang kubayangkan.. maka aku jelas akan mendekapmu kemanapun dan melupakan hadiah lamaku. Hasilnya akan sama seperti kemungkinan kedua. Ditambah lagi, aku akan mengetauhi segala sesuatu tentangmu, menjadi bosan, atau marah pada suatu waktu. Aku tidak ingin hal itu terjadi….
Maka biarlah kau tetap disitu. Diatas lemari. Aku bisa melihatmu kapanpun. Aku akan tetap menerka-nerka apa isimu. Bagaimana reaksiku jika aku mengetauhi isimu. Apakah perubahan yang kau ciptakan jika aku membukamu. Ya…. Kau dan segala sesuatu tentangmu akan abadi dalam ingatanku. Cukup dengan melihatmu, aku akan selalu tersenyum sesakit apapun luka di dadaku, sepahit apapun kenyataan yang kuhadapi…
Sekali lagi aku meminta maafmu… dan tentu saja terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadiranmu. Atas keajaiban yang mengirimmu untukku….

Selasa, 01 November 2011

KAMU


Semisal angin pagi ini tidak bertiup, aku tak akan tau bedanya. Apa yang aku rasa. Apa yang aku minta. Apa yang ingin kulantunkan dalam doa yang baru kuingat boleh untuk dilakukan. Rasa takut itu. Rasa sendiri itu. Rasa memaafkan itu. Rasa bahagia itu. Rasa cinta itu. Rasa menyesal itu. Rasa bersalah itu. Rasa bersyukur itu. Rasa rindu itu. Tak bisa didefinisikan sendiri-sendiri. Tak bisa disimpulkan begitu saja secara keseluruhan.

Pantai. Bunga. Jaket ungu. Bunga. Jakarta. Bali. Ruby, sapphire, mutiara. Ulang tahun. Hari ibu. Hujan. Jalan kaki. Madu. Keju. Salad. Piano. Ciuman. Air mata. Kebohongan. Permintaan maaf. Valentine. Lebaran.puasa. kucing. Hamster. Pet shop. Restoran. Rotterdam. Tuhan. Pelukan. Tanpa bercinta. Cinta. Kemarahan. Rindu. Rindu. Rindu.

8 Pohon munggur. Mata. Kata-kata. Rahasia. Cinta. Makan siang. Perpustakaan. Apel. Genggaman tangan. Lukisan. Solo. Puisi.  Pilihan. Pergi.

Hukuman . balas dendam. Usaha. Maaf.

Tak ada yang bisa dibandingkan. Tak ada perbandingan. Tak ada penyesalan. Tak ada yang perlu disesalkan.
Rindu. Rindu. Rindu. Logika. Benci. Benci. Benci. Rindu. Rindu. Rindu…………..


Jumat, 28 Oktober 2011

MERINDU



Dalam logikaku (yang serba berperasaan) tak ada kebetulan. Semua hal terjadi karena suatu sebab, suatu maksud. Tak mungkin aku tersandung pagi ini jka tidak untuk membalas rasa sakit yang pernah kuperbuat, pun sesakit tertusuk kerikil tumpul. Tak mungkin aku duduk di bangku ini jika tidak untuk menyelamatkan empat ekor semut, atau untuk memikirkan ini. Tak mungkin aku melewati jalan memutar tadi jika bukan agar aku melihat orang yang lama tak pernah kulihat. Lama dalam bilangan menurut kadarnya dalam hidupku, sebelum saat ini tepatnya. Tak mungkin aku merindu seperti ini jika bukan karena diapun teringat padaku. Atau dia teringat padaku karena aku yang merindukannya ketika aku melewati jalan memutar tadi sehingga aku melihatnya. Oleh karena itu aku merindukannya. Bukan sebuah logika yang berbelit-belit sebenarnya. Namun butuh kerelaan waktu untuk memikirkannya. Dan nafas lebih panjang tentunya…
Jika waktu itu aku tidak memutuskan untuk pindah ke kota ini, aku mungkin tidak akan bertemu dengan orang itu. Mungkin aku masih akan dalam sakit hatiku yang mendalam, membenci pria selamanya,  dan memutuskan untuk tidak akan menikah. Atau mungkin aku akan bertemu dengan orang lain yang lebih segala galanya darinya, hidup bahagia selamanya. Atau mungkin aku akan tetap bertemu dengannya di tempat lain, dengan pertemuan yang sama indahnya, atau bahkan lebih indah, namun tidak akan lebih buruk. (aku masih menggunakan perasaanku, kan?) karena tidak ada pertemuan lain yang lebih buruk daripada pertemuan kami. (rasa masih ikut campur). Kami bertemu saat dia sedang hampir bercinta dengan kekasihnya. Lalu takdir bekerja.. bum bum bum!!!!
 Aku tersenyum saat dia menawarkan untuk menjalani  setapak yang sama, meski kami benar-benar berbeda. Jalanku terjal, detikku cepat, aku terbiasa berhati-hati meski tak takut menghadapi resiko, percaya keajaiban pada “last minute” , mempersiapkan diriku untuk menghadapi kemungkinan terburuk, bersiap berjalan memutar atau memanjat tebing jika jalan utama tidak memungkinkan. Sedangkan dia, jalannya halus, detik bisa dijalani dengan normal, ada banyak pemandangan indah di kanan kiri, udaranya sejuk, dan selalu ada jalan alternatif yang sama bagusnya jika ada hambatan di jalan utama. Kami berbeda, tapi memutuskan untuk berjalan beriringan dalam satu setapak.
Segala yang tidak kebetulanpun juga harus mengalami ketidakbetulan lain yang tidak menyenangkan untuk memperkuat dan juga untuk membuktikan bahwa itu bukan suatu kebetulan. Aku kembali berjalan dengan cepat, dia kembali menikmati perjalanan. Aku kembali menikmati “keluar jalur” karena menurutku itu sangat menantang untuk dicoba. Sedang dia memintaku untuk berteduh dalam payungnya, lebih aman, nyaman dan bisa terprediksi. Entah mengapa hal-hal semacam itu menjadi besar.  Kami memilih memutuskan untuk kembali berjalan pada setapak masing masing.
Karena tidak adanya kebetulan dalam logikaku, saat in aku menantangnya. Menantang sesuatu yang menyebabkan semua hal terhubung dan penuh makna. Jika memang mimpi-mimpiku bukan merupakan kebetulan, tentu semua ini akan kembali terhubung. Mungkin jalan yang kami tapaki masing masing memiliki satu ujung yang sama pada suatu waktu yang –bukan kebetulan- tepat. Saat ini kami memilih menapaki waktu dengan detik berbeda. Saat ini aku memilih merindu…

Senin, 17 Oktober 2011

MIMPI


Aku adalah orang yang sangat percaya dan berusaha meraih mimpi meski aku jarang bisa benar-benar bermimpi. Aku bukan sangat pandai, namun aku cerdik dan punya nafas lumayan panjang untuk meraih mimpiku. Tidurku selalu nyenyak. Aku terlalu lelah menjalani hari-hariku. Aku tak sempat bermimpi. Jika dihitung, mungkin aku hanya bermimpi sekali dalam beberapa bulan. Pernah juga lebih sering, aku bermimpi 2 minggu sekali selama 3 bulan berturut-turut, ketika negeri ini sering terkena bencana ataupun ancaman kudeta. Dari kecil, aku tak pernah bangga menang lomba tingkat kabupaten, propinsi, bahkan nasional. Penghargaan dari presiden pun tidak membuat mataku berbinar-binar. Memang seharusnya itulah yang kudapat, sebagai siswa kelas 6 sd waktu itu , yang punya mimpi.
“berapa gaji seorang bupati?” tanyaku pada ibu sambil menggambar dua gunung dengan satu matahari. Ibu menyebutkan nominal yang jumlahnya puluhan kali lipat dari gaji ayahku. Aku tersenyum sinis, “mengurusi orang sebanyak itu cuma digaji segitu?” ejekku dengan mulut penuh makanan yang disuapi ibu. Aku ingat betul bagaimana ekspresi ibu mendengar ucapanku. “sudah.. ayo berangkat sekolah” jawab ibu sambil mengeluarkan sepeda motor untuk mengantarku ke tk paling hebat di kota kecil ini. “jangan bermimpi terlalu tinggi! Kamu harus bercermin! Kamu itu anak orang miskin dan sama sekali tidak cantik!” bentak ayahku saat aku menutup dengan sadis telepon dari anak pemilik pabrik shuttlecock. Aku mendengus. “dia terlalu bodoh… gak level!” aku berlari menuju kamar remajaku sebelum mendengar jawaban ayahku.
“aku juara satu” kataku setengah berteriak pada ayahku saat sampai dirumah. “bukankah sudah  semestinya begitu?”, jawab ayahku. Matanya tak lepas dari televisi. Aku diam dan membuka kembali tulisan di lembar pertama buku rapor tebalku. Siang itu, di tahun ke enam  hidupku aku belajar untuk tidak pernah mengharap ucapan selamat dari siapapun atas apapun yang aku lakukan. Apapun yang aku capai. Sudah semestinya begitu.
Aku iri melihat temanku bercerita tentang mimpinya. Dia bercerita memasuki rumah yang terbuat dari gula-gula kapas, sehingga dia bisa memakan dindingnya, pegangan pintunya, bahkan toiletnya. Ketika beranjak dewasa aku iri ketika temanku yang lain bercerita bahwa dia bermimpi bertemu dengan bintang film korea. Seketika yang lain menimpali, pernah bermimpi bertemu artis ibukota lah, kakak kelas taksirannya lah, bintang bokep lah. Sedangkan aku? aku membuka kembali jurnal mimpiku. Terakhir aku bermimpi 3 bulan yang lalu. Aku bermimpi mellihat sumur yang airnya meluap, hal yang mustahil dan sama sekali tidak indah. Aku memang menulis semua mimpiku. Tak sulit, karena sampai dengan saat ini, aku bermimpi tak lebih dari 100 kali.
“Dion datang kemari. Ini malam minggu, dia pacarmu? “ ibu tiba-tiba sudah di depan pintu. “oo.. bukan bu. Aku cuma mau menyuruhnya mengantarku ke ulang tahun Citra”. Ibu mengernyitkan dahi, “jangan dipermainkan, dia anak kepala polisi di daerah ini. Ibu malu kalau sampai kamu membuat masalah, bisa-bisa digunjingkan orang sekampung”. Aku mendengus “dia Cuma anak Kapolsek”. “ayahmu tukang bengkel”. “tapi aku bukan!”. Lagi-lagi ibu menghela nafas.
Aku merasa lepas dari keterikatan waktu ketika tidur. Tanpa mimpi. Tanpa tau berapa waktu yang sebenarnya aku habiskan. Tidur dua jam atau delapan jam bagiku sama saja. Sama-sama seperti sedetik menutup mata, lalu terbangun dan segar. Jadi, kalau aku tidur delapan jam sehari, aku akan rugi besar. Karena ada banyak sekali hal yang harus aku krjakan. Yang harus aku fikirkan. Yang harus aku impikan dengan mata terbuka.
Kini usiaku hampir 20 tahun. Belum ada kesuksesan yang benar-benar kucapai. Tapi aku tahu aku akan. Karena aku jarang sempat bermimpi dan serius mengejar mimpi. Ya, kita lihat saja nanti!!

KHILAF


Aku melakukan suatu kekhilafan. Suatu kekhilafan yang tak sepenuhnya salah. Sebuah kekhilafan yang tak akan pernah mungkin kusesali. Sebuah khilafan yang membuatku tercampakkan dari keadaanku yang nyaman, kekasih yang luar biasa baik, dunia yang begitu sempurna. Namun aku bahagia. Sangat bahagia. Meski akhirnya tak ada satupun yang bisa kupertahankan, kebahagiaan itu atau dunia indah sebelumnya.
Goresan percabangan takdir yang sebenarnya tak begitu jelas tekanannya sore itu kupilih kuikuti. Seperti berjalan memasuki labirin, kita tak pernah tau apa yang ada dan akan terjadi di balik belokan. Aku bertemu dengan sesosok wajah melewatiku. Detikku cepat. Setiap hari aku bertemu ratusan wajah, namun bukan wajah itu. Atau mungkin bukan saat seperti saat itu. Mata kami bertemu.  Sekejap aku berharap dia kembali dan menanyakan namaku, lalu kami bisa mengobrol, menemukan kecocokan, dan….. sebuah doa yang teramat panjang untuk sebuah pandangan yang bertemu. Sebuah doa yang sangat kurang ajar untuk seorang kekasih yang dirindukan beberapa kilometer dari tempat itu. Namun goresan takdir itu menebal, menajam. Wajah itu kembali. Tidak untuk menanyakan namaku. Tapi untuk menuju tempat aku harusnya menuju. Tak pernah kulihat 8 pohon munggur yang kulewati setiap hari menjadi seindah ini. Aku bergabung dalam lingkaran, menundukkan wajahku dari sosok itu. Aku malu. Wajah itu. Guguran daun munggur. Angin yang menarik lepas ikatan rambutku. Semuanya mengijinkanku untuk jatuh cinta saat itu juga.
Tak perlu waktu lama ketika kita masuk dalam perosotan takdir. Kami makan  sore bersama. Membicarakan hal-hal berat yang hanya akan kami bicarakan denga orang yang kami kenal bertahun-tahun. Membicarakan hidup, takdir, tuhan, dan doa. Disusul dengan sebuah ajakan makan siang keesokan harinya. Lalu berbagi rahasia terbesar dalam hidup pada sore harinya. Dan itulah saat takdir bekerja. Kami tidak bersusah payah. Kami tidak memiliki strategi. inilah jawaban sekaligus pertanyaan atas semua kegelisahan kami. Tak perlu ciuman. Tak perlu surat cinta. Tak perlu bercinta. Kami mampu untuk menyepakati cinta itu sendiri.
Tak semalampun kami lewatkan untuk menikmati cinta dalam genggaman tangan. Dalam kata-kata. Dalam harapan. Dalam doa. Batas antara baik , kebaikan, buruk, keburukan, cinta, dan pengkhianatan pun memudar. Cinta tetaplah cinta meski menyakiti cinta lain. Cinta tetaplah cinta meskipun tidak dipilih. Cinta tetaplah cinta meski berlabuh pada pelukan lain. Cinta tetaplah cinta meskipun ranting takdir itu patah oleh angin.
Aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta.aku hanya mengambil salah satu belokan pada labirin, dan aku menemukan cinta. Lalu benar-benar jatuh terperosok kedalamnya. Menyakiti pegangan cinta lain pada sebelah tanganku. Menikmati permainannya, merasakan satu bentuk kesalahan, dan tak pernah menyesal.